SELAMAT DATANG DI BLOG YANG MENJADI WADAH ATAU TEMPAT AKU MENUANGKAN PEMIKIRAN DAN TERIAKAN ISI HATI...

Kamis, 09 Agustus 2012

Lukisan Diri

Ada satu kenyataan bahwa; terkadang suatu hal dipandang baik atau buruk bukan dari penampakan tampilannya, tapi sesuatu dibalik tampilan itu! Dan kitalah yang menciptakan sesuatu itu untuk bisa dinilai orang bahwa sesuatu itu adalah baik atau buruk.

"Sekali menjadi sampah, ya selamanya hanya menjadi penghuni TONG SAMPAH!!
Meski tampilannya dilapisi intan permata, hanya bau busuk yang akan terus tercium..."


Sahabat.. seperti apakah kita menghargai diri sendiri? Seperti apakah kita saat bercermin pada diri kita sendiri? Disudut manakah kita menempatkan kebanggaan atas kebaikan dalam diri kita? Kita sering memandang rendah kemuliaan yang kita miliki. Tapi, maukah kita dimasukkan ke dalam golongan yang rendah itu?!
Aku rasa tidak ada orang yang menghendaki dirinya masuk di dalam kategori RENDAH! Kita lebih suka menjadi orang yang punya nilai lebih. Sebab, kita memang terlahir sebagai makhluk mulia yang sempurna.
Sahabat.. sesungguhnya kita seperti sedang melukis diri saat ini. Lukisan seperti apakah yang sedang kita buat? Yang indah dan bernilai tinggi, atau hanya sebuah sampah yang nantinya hanya akan memenuhi tong sampah rumah kita?
Ketahuilah sahabat, lukisan indah yang bernilai tinggi bukan lukisan sampah yang layak ditempatkan ditempat utama dalam rumah kita. Jadi, buatlah dengan halus agar mendapat tempat yang terbaik. Hasil dari lukisan yang kita buat saat ini akan menentukan tempat kita dimata,hati,dan jiwa Suami/Istri kita kelak. Bentuklah "LUKISAN" dirimu dengan indah.


Salam,
Iman Pitoy

Ciledug, 10-08-2012
Baca Selengkapnya...

Senin, 05 Desember 2011

Mila Bukan Mala...

Matahari sudah mulai terlihat tenggelam, tanda hari hampir senja. Di pemakaman, disalah satu kubur yang masih merah, Luffy terpaku dengan mata terus memandang sebuah batu nisan. Sisa-sisa air mata masih terlihat dipipinya. Bibirnyapun masih belum berhenti bergetar.
"Mala, kenapa harus seperti ini akhirnya?" ujar Luffy lirih dihadap kubur merah itu. "Aku yakin dengan pasti kamu dengar suaraku ini, aku sangat mencintaimu, aku... sangat..." Luffy tak sanggup meneruskan. Air matanya kembali tumpah.
Luffy mencium batu nisan itu, dan berkata lirih "Mala, mungkin kita takkan pernah ada lagi. Tapi aku takkan pernah melupakan indah kenangan itu, kenangan saat-saat kebersamaan kita. Aku cinta kamu, selamanya."
Perlahan Luffy bangkit dan meninggalkan batu nisan yang mulai tak terlihat karena hari yang sudah mulai gelap.


Tiga bulan telah berlalu. Di sekolah, Luffy sudah mulai kembali ceria. Luffy tidak terlihat murung seperti tiga bulan belakangan ini. "Woi, Fy.." kontan Luffy menoleh kaget. Ternyata si Andi, teman sekelas sekaligus teman paling dekat sejak mereka masih SMP dulu. "Eh, lo Ndi. Lo gak ikut futsal? Kalau gak salah, sekarang ada pertandingan antar SMA kan?" tanya Luffy.
"Males ah Fy, gak ada duitnya sih," jawab Andi sambil cekikikan. "Oh ya Fy, ada seseorang yang mau gue kasih liat ke lo nih" lanjut Andi lagi.
"Cewek apa cowok?" Luffy penasaran.
"Cewek dong. Dan gue yakin, lo pasti suka banget setelah ngeliat dia" jawab Andi sambil mengedipkan mata.
"Siapa sih. Yaudah, dimana dianya sekarang?"
"Sabar, sebentar lagi juga datang. Tadi udah gue telfon katanya masih dijalan."
Tak lama setelah itu, terdengar suara menyapa dari arah belakang Luffy. Luffy menoleh, mencari asal suara itu, dan melihat seorang gadis berseragam SMA sedang tersenyum ke arah mereka berdua.
"Dd.. di.. diaa.." ujar Luffy tertahan.
"Hahaha." Andi tertawa melihat ekspresi temannya ini.
"Dia, Mala bukan, Ndi?" Luffy bertanya heran.
"Bukan, nama dia Mila. Hanya saja kebetulan mirip, bahkan serupa dengan Mala!" jawab Andi, "Ingat Fy, Tuhan pasti memiliki rencana lain untuk kita yang tidak pernah kita duga sebelumnya, dan inilah bukti dari rencana Tuhan itu."
Luffy tersenyum. Dia merasa, saat ini dia seperti menemukan kembali apa yang pernah hilang dari dirinya. Dia menemukan kembali cintanya, meski dia sadar cinta itu hadir bukan lagi dari sosok wanita bernama Mala, tapi Mila.

Terkadang Tuhan sengaja menghilangkan matahari dari hadapan kita. Lalu sengaja mendatangkan petir dan kilat yang mampu membuat kita menangis.
Tapi, dibalik itu Tuhan sudah menyiapkan dan akan menghadiahi kita pelangi yang sangat indah...


Salam,
Iman Pitoy

Ciledug,
05-12-2011,
13:40 WIB.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 02 November 2011

Sudah cukup aku sakit hati..

Berawal dari kebohongan kecil, kemudian lahirlah kebohongan yang lebih besar.
satu kebohongan tutupi kebohongan yang lainnya.



Pernah sekali waktu, aku melihatmu memeluk lelaki lain dengan hangatnya. Seolah kalian pasangan kekasih yang pernah terpisah, dan dipertemukan kembali oleh takdir. Ketika aku menanyakan siapa lelaki itu, dengan santainya kau menjawab "Dia cuma teman kok sayang.."
Jujur aku kecewa saat itu, tapi entah kenapa hati ini ternyata masih mau memaafkan.
Tak lama setelahnya, rahasia besar yang selama ini kau tutup-tutupi pun terkuak, KEPERAWANANMU TELAH HILANG..!
Akhh... sesak sekali dada ini begitu mengetahui aibmu itu.
Aku mencoba menguatkan diri, mengehela nafas yang terasa sulit saat ini. Setelah itu aku mulai menanyakan, bagaimana hal itu bisa terjadi?
Lalu kau menjawab, "Saat itu, aku dicekoki minuman keras, dan dengan liarnya dia menyetubuhiku.."
Hah?? Apa?? Aku tercengang setelah mendengar jawabanmu. Bukankah itu sama saja kau diperkosa?? Lalu kenapa kau tidak melaporkan dia ke polisi??
Kau menjawab "Sepertinya itu tidak perlu..!"
Hah?? Apa?? Tidak perlu?? Kembali aku tercengang mendengar jawabanmu. Apakah itu berarti kau menikmati saat-saat disetubuhi?? Aku sudah tidak tahan lagi. Kurasa saat ini aku merasa jijik se jijik-jijiknya, hingga membuatku tidak bisa lagi menatapmu dengan kasih.


Sayang, sudah cukup atas kepura-puraan dan cara-cara jalangmu.
Luka ini takkan bisa terobati, meski kau bersujud meneteskan airmata darah, atau merobek vaginamu sekalipun. Aku takkan luluh, sudah cukup aku sakit hati, aku tak cinta kau lagi...


Salam,
Iman Pitoy

Ciledug,
02-11-2011,
22:00 WIB.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 11 Oktober 2011

Ternyata (Aku tanpamu, takkan berakhir...)

Ternyata rasa ini membuatku terjebak dalam sebuah pengharapan
Ternyata rasa ini melelahkan jiwa yang lirih menanti
Haruskah kuhapus semua tentangmu?
Haruskah kuberaikan saja mimpi tentang kita?





Tapi...
Ternyata jiwa ini lebih memilih setia dalam penantian bodoh
Ternyata jiwa ini lebih memilih terbelenggu pengharapan konyol



Teruntuk kata hati yang telah mati;
Hadirkanlah sebait kata bijak untukku
bahwa, "AKU TANPAMU, TAKKAN BERAKHIR..."



Salam,
Iman Pitoy

Ciledug,
11-10-2011,
21:10
Baca Selengkapnya...

Selasa, 04 Oktober 2011

Ibu tua yang terlantar...

Ini cerita dari Jepang kuno, mudah2an bisa diambil hikmahnya...


Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.
Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

"Bu, kita sudah sampai" ujar si anak
Si Ibu dengan tatapan penuh kasih berkata: "Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.. Nak, Ibu tidak ingin saat kamu nanti pulang, kamu tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan"
Setelah mendengar kata-kata Ibunya itu, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.


Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang tidak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll.
Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja.
Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita untuk bisa mencintai orang tua dan manula.
Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa.
Ingat-ingatlah perjuangan mereka pada waktu membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 14 September 2011

MOTIVASI (Jika ingin berprestasi atau sukses)

"Bagaimana sih caranya berprestasi atau sukses seperti mereka??"

Pertanyaan seperti ini pasti sering muncul dalam benak kamu. Apalagi saat kamu hanya bisa jadi penonton mereka-mereka yang sukses meraih hasil dari perjuangannya.
Nah, ini yang harus kamu lakukan jika memang ingin berprestasi atau sukses;


* Harus mendoktrin diri untuk menjadi lebih baik bukan untuk menjadi pemalas.


* Harus all out. Tekadkan pilihan, dan jangan hanya sekedar coba-coba.


* Harus menunjukkan tingkah laku yang kreatif dan keinginan untuk maju.


* Harus bisa menemukan, dan memanfaatkan potensi dalam diri.


* Jangan pernah mau dikasihani. Berfikirlah kita bisa menyelesaikan apapun dengan kemampuan diri sendiri. Karna dengan begitu, nantinya kita akan bangga dengan jerih payah kita sendiri.


* Mengarahkan diri dengan titik berat pada tercapainya suatu prestasi atau keberhasilan tertentu.


* Jangan pernah kalah oleh rasa malu atau gengsi.

Jika salah satunya dijalani atau diterapkan dalam kehidupanmu. Saya yakin, "SUKSES" bukan hanya sebuah khayalan para pemimpi bodoh!!


Semoga bermanfaat...


Salam,
Iman Pitoy

Ciledug,
14-09-2011,
18:58 WIB.
Baca Selengkapnya...

Minggu, 07 Agustus 2011

Cinta dan Kecewa..

Tuhan..
Mengapa kau hadirkan cinta, sementara kecewa ada dibalik sayapnya ?
Yang aku tahu, cinta takkan bisa berjalan berdampingan dengan kecewa.
Lalu untuk apa kau hadirkan cinta dan kecewa disaat yang sama ?


Mungkin ini petunjuk darimu agar aku mengerti, bahwa memang harus ada dualisme dalam setiap sesuatu...



Salam,
Iman pitoy

Ciledug,
07-08-2011,
22:07 WIB.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 02 Agustus 2011

Rahasia Terindah (Kekasih gelapku..)



Rasa cinta ini biarlah menjadi rahasia terindah di hidupku
Aku takkan memberitahu mereka, sebab mereka memang tak perlu tahu
Akan ku kunci lisan ini untuk tak berucap apapun
Tapi kau tak perlu ragu, karena cinta ini takkan pernah berkurang untukmu
Maka yakinlah aku tetap untukmu, karena kau rahasia terindah wahai kekasih gelapku...



Salam,
Iman pitoy

Ciledug,
02-08-2011,
20:40 WIB
Baca Selengkapnya...

Jumat, 08 Juli 2011

Jumat, 24 Juni 2011

Cerita Rakyat Jakarta "Si Jampang Jago Betawi"

Sepasang suami istri itu bahagia sekali setelah melihat bayi mereka lahir dengan selamat. ”Hem, ini dia anak lelaki pertama gue. Lihat dia nampak sehat dan gagah!”

“Iya Bang ! Anak kita ini nampak gagah sekali ya?”

“Siapa dulu dong Bapaknya? Orang Banten memang gagah-gagah!” sambung si suami.


“Abang selalu mengandalkan asal Abang saja. Tanpa ada aku ibunya yang dari Jampang ini, dia tidak akan pernah ada!”

“Iya deh! Lalu kita beri nama apa dia?” tanya si suami.

Atas persetujuan mereka, setelah berdebat ramai, bayi yang berumur seminggu itu diberi nama si Jampang. Anak itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang benar-benar gagah, ganteng, sebagai pemuda keturunan Banten, ia juga diajari ilmu pencak silat yang sangat terkenal itu ia juga pandai memainkan golok. Jika ia hadir di pesta-pesta keramaian selalu menarik perhatian gadis-gadis remaja.

Setelah usianya cukup dewasa dia dinikahkan dengan seorang gadis cantik dari dari Kebayoran Lama. Setelah menikah, si Jampang tidak mau hidup serumah dengan kedua orang tuanya. Ia juga tak mau tinggal di rumah mertuanya. Ia lebih suka hidup mandiri. Suka duka akan dijalaninya bersama dengan istri tercinta.

Demikianlah, setelah mengumpulkan perbekalan yang cukup ia membeli tanah dan membangun rumah sendiri yang sederhana. Ia dan keluarganya pindah ke Grogol, Depok.

Ia hidup baik-baik dan bahagia dengan istrinya itu. Namun sayang, setelah dikaruniai anak laki-laki, belum lagi anak itu beranjak remaja, sang istri sudah meninggal. Sejak itu, Jampang hanya hidup dengan anak laki satu-satunya. Anak ini dikenal dengan nama Jampang muda. Dia tumbuh pula menjadi seorang anak muda yang tampan seperti ayahnya.

Si Jampang ingin anaknya menjadi orang soleh yang berguna bagi masyarakat. Maka ia titipkan anak itu di pondok pesantren. Kadang-kadang saja anak itu pulang menemui ayahnya karena ia lebih seneng tinggal di pesantren dengan kawan-kawannya.

Sejak ditinggal mati istrinya si Jampang merasa kesepian. Ia makin sedih melihat kenyataan bahwa kehidupan rakyat Betawi banyak yang menderita. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang kaya dan senang. Maka seperti si Pitung, Jampang kemudian merampok harta orang-orang kaya yang kikir lalu diberikan kepada penduduk yang menderita.

Pada suatu hari anaknya pulang ke rumah.”Ayah, saya tak mau lagi mondok di Pesantren. Saya malu sekali, Yah!” kata anaknya

“Malu? Malu kenapa Tong?” tanya si Jampang penasaran. Tong adalah panggilan sang ayah kepada anaknya.

“Ayah kan orang Banten. Biasanya orang-orang Banten itu alim dan hidup baik-baik. Tapi ayah kok sering merampok? Di Pesantren sudah dibicarakan orang terus. Saya jadi malu sekali, Yah.”

“Kamu tidak perlu memberi nasihat kepada Ayah. Kamu masih anak kemarin, Tong. Sebenarnya kamu pulang punya maksud apa?” tanya ayahnya.

“Saya tidak mau mengaji lagi, Yah.” sahut anaknya.

“Payah, kamu Tong. Tadi memberi nasihat seperti kyai, sekarang tidak mau mengaji lagi. Kamu mau jadi apa? Mau jadi tukang pukul seperti ayahmu ini?”

si Jampang muda menggelengkan kepala, ”Lho jadi apa maumu Tong? Kamu tidak mau mondok? Kalau begitu, lebih baik nikah saja.”

Ciput mengangguk-angguk.

“Ibu seperti kena guna-guna,” kata Abdih, ”Pelakunya tentu Mang Jampang. Sungguh bikin malu. Saya malu sekali. Dukun mana yang bisa menyembuhkan Ibu, Ciput?”

Ciput belum pernah tahu soal guna-guna. Jadi, dia tidak bisa menjawab. Abdih bertanya kesana kemari. Akhirnya dapat berita. Pak Dul di kampung Gabus. Karena dukun itu sendiri yang membuat, dengan tidak menemui kesukaran dia pula yang mencabut guna-gunanya. Mayangsari seketika sembuh. Tidak ingat lagi kepada si Jampang.

Sesudah itu Abdih mencari Jampang. Ia marah tapi ketika bertemu Jampang ia malah tak bisa bersikap keras. Terpaksa ia bicara baik-baik.

“Bisa atau tidak bisa, saya harus menikah dengan Ibumu, Abdih,” kata Jampang menegaskan.

“Saya tidak melarang, Mang Jampang,” jawab Abdih yang ketakutan juga, ”Tetapi ada syaratnya, Mang Jampang harus menyerahkan sepasang kerbau sebagai emas kawinnya.”

“Saya tidak keberatan, Abdih. Saya akan usahakan!”

Abdih pulang menyampaikan kesanggupan Jampang kepada ibunya.

Dari mana dapat kerbau sepasang ? Harga kerbau sepasang sangat mahal. Jampang tidak punya uang. Namun, dia segera ingat Haji Saud di Tambun. Dia kaya sekali. Sawahnya luas, kerbau dua ekor bukan apa-apa. Ke tempat itulah Jampang dan Sarpin pergi merampok dengan mudah. Ketika dia dengan Sarpin akan keluar dari pintu desa, sekawanan polisi sudah mengepung. Mereka menunjukkan laras-laras senapan kearah Jampang dan Sarpin. Tertangkaplah Jampang. Jampang pun tidak bisa melakukan perlawanan.

Orang-orang kaya, tuan-tuan tanah, serta pejabat pemerintah Belanda merasa gembira melihat Jampang telah dipenjara dan akhirnya dihukum mati. Sebaliknya, rakyat kecil, para petani dan mereka yang menderita amat sedih. Walaupun Jampang sering merampok, dia tidak pernah menikmati sendiri hasil rampokannya. Bagi rakyat kecil Jampang adalah sosok pahlawan mereka sering mendapat pembagian hasil rampokan dari orang-orang kaya dan tuan-tuan tanah yang tamak dan kikir.

Jampang menemui nasib naas ketika merampok sepasang kerbau yang hendak digunakan sebagai Mas Kawin bagi Mayangsari, yang berarti untuk kepentingannya sendiri. Memang cara yang tidak benar, tidak halal, tidak boleh ditiru oleh siapapun agar tidak bernasib sial.


Sumber : http://www.bali-directory.com/education/folks-tale/SiJampangJagoBetawi.asp
Baca Selengkapnya...

Rabu, 15 Juni 2011

Karena Kau (Sebuah harapan..)

Aku terhimpit kesendirian tak berkesudahan
Terpaku gersangnya pelangi setelah hujan sore ini
Semuanya penuh keheningan...
Semuanya penuh kehampaan...
Angin...
Lihat dan dengarlah aku ingin mengadu...


Hanya sebatang rokok dan segelas alkohol yang slalu setia menjadi teman berbagi
Kemanakah sang bidadariku pergi.. ?
Aku hanya bisa diam dalam jiwa yang merintih
Berharap semua ini akan cepat berakhir...


Kubentangkan sejuta asa demi rengkuh bahagia
Disini aku slalu mengingat satu janjimu
Janji kau akan kembali untukku
Kembali menjadi bidadari pembawa damai hatiku
Menyirami kalbuku yang haus sentuhan kasihmu


Kapankah kau kembali ?
Batinku resah menunggumu disini
Lekaslah...
Lekas akhiri kesendirianku...
Karena kau adalah satu-satunya harapanku...


Salam,
Iman Pitoy,

Ciledug,
15-06-2011,
11:10 WIB.
Baca Selengkapnya...

Senin, 23 Mei 2011

Kecantikan yang menghilang



Wanita yang dulu cantik itu kini ringkuh dan layu.
Dia menunduk di hadapan cermin, lalu menuduh sang waktu yang begitu kejam merampas segala keindahan dari dirinya.
Wanita itu menangis melihat wajahnya kini, wajah yang mulai keriput.
Dan dia pun tahu cermin tak mungkin berbohong.



Kini dia sadar akan apa yang selama ini dibanggakannya:
Kecantikan pada akhirnya akan menghilang seiring menuanya umur kita...


Salam,
Iman Pitoy

Ciledug,
23-05-2011,
14:58 WIB.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 29 April 2011

Bila waktu itu tiba (Kenyataan perasaan..)

Percaya saja saat aku mengatakan apapun kepadamu nanti
Tak perlu ada pertanyaan "Mengapa..?"
Karena cinta datang dengan sendirinya...


Kasih sayang dan cinta buatku tak harus diucapkan
Karena aku bukanlah seorang lelaki pengumbar kata-kata cinta penuh kepalsuan
Dan bila waktu itu tiba aku pasti akan mengatakannya padamu
Maka,
Percaya saja apa yang akan aku katakan nanti
Karena itu kenyataan perasaanku selama ini dari hati yang terdalam



Salam,
Iman pitoy

Ciledug,
29-04-2011,
19:14 WIB.
Baca Selengkapnya...

Kamis, 31 Maret 2011

Istri yang pemaaf...

Ada sebuah cerita, cerita tentang sepasang suami istri yang sedang melakukan perjalanan.
Ditengah perjalanan, mereka bertengkar hebat. Sang suami yang sudah dikuasai emosinya oleh syaitan, memaki bahkan menampar sang istri. Tapi, sang intri hanya diam tidak membalas, dia hanya tersenyum sambil menuliskan isi hatinya diatas sebuah pasir.
"Suamiku melukai hatiku..."
Setelah itu, mereka meneruskan perjalanan hingga tiba di sebuah sungai. Sang istri meminta ijin untuk mandi. Saat mencoba mulai berenang, dia hampir tenggelam, sampai akhirnya sang suami berhasil menyelamatkannya. Setelah siuman, dia kembali tersenyum dan menuliskan isi hatinya. Tapi kali ini berbeda, dia menuliskannya bukan diatas pasir, melainkan batu.
"Sekarang, suamiku tercinta menyelamatkan nyawaku..."


Sang suami terlihat heran, lalu menanyainya:
Suami bertanya: "Kenapa saat aku melukaimu, kamu menuliskan itu diatas pasir? dan saat ini, saat aku menyelamatkanmu, kamu menulisnya diatas batu?"
Istri menjawab: "Kenapa aku menuliskan diatas pasir saat aku dilukai, karena agar angin maaf dapat menghapus tulisan diatas pasir itu. Dan saat kamu berbuat hal yang membuatku bahagia, aku akan menuliskannya di batu, agar angin tidak dapat menghapusnya..."



Dalam hidup ini, pasti sering terjadi kesalah pahaman/beda pendapat, yang terkadang bisa membuat kita bertengkar karena sangat menyakiti hati. Oleh karena itu belajar lah untuk bisa saling memaafkan dan melupakan masalah yang lalu.
Cerita diatas memberikan pelajaran buat kita. Pelajaran untuk bisa memaafkan, sekalipun itu sangat menyakitkan, dan pelajaran untuk selalu mengingat kebaikan-kebaikan yang telah kita terima dari orang lain.
Semoga teman-teman semua dapat belajar dari tulisan saya ini.



Salam,
Iman Pitoy,

Ciledug,
 31-03-2011,
15:37 WIB.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 16 Maret 2011

Cinta Yang Ditentang..

Pagi ini, Iman datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Yang ada di sekolah baru beberapa siswa, itupun anak kelas 10. Dia duduk di pojok kantin, tempat favorit dia diwaktu istirahat jam pelajaran. Tiba-tiba terdengar satu suara memanggilnya dari belakang, "Iman! Ngapain kamu disitu sendirian?" refleks Iman menoleh kebelakang, ternyata si Luffi teman sekelasnya. "Eh kamu toh, Fi. Tumben kamu sudah ada di sekolah?"
"Kamu sendiri juga tumben, biasanya juga telat melulu!" jawab Luffi setelah duduk tepat di depan Iman.
"Ga tau nih, Fi. Hari ini kayanya beda banget, lagi ga pengen telat dateng,"
"Beda apanya nih? Suasana hati kamu kali yang lagi beda?" Luffi meledek.
"Maksudnya?" ujar Iman tak mengerti.
"Aku tahu kok. Kamu baru putus kan sama efrina? Dan penyebabnya, karena orang tuanya tidak setuju kan?"
Iman tidak menjawab pertanyaan Luffi yang seakan tahu isi hatinya.
"Ternyata benar!" ujar luffi lagi, "Heran deh aku, hari gini masih saja ada orang tua yang ikut campur urusan anaknya,"
Sekali lagi Iman tidak menjawab, dia hanya diam sejuta kata.
"Apa kamu tidak kecewa, Man?" tanya Luffi menyelidik.
"Bohong kalau aku tidak kecewa, Fi" jawab Iman akhirnya. "Tapi untuk apa? Toh, itu untuk kebahagiaannya juga. Dan aku menghargai keputusannya, asalkan dia bahagia, aku ikhlas.." Iman beralasan.
"Salah, bukan seperti itu yang harusnya kamu lakukan," hentak Luffi. "Jika pertimbangannya bahagia, mestinya mereka membiarkan anaknya berhubungan dengan siapapun, bukan malah membatasi. Tugas mereka hanya mengawasi, mengontrol, yang menentukan si anaknya sendiri. Kan yang menjalani hubungan itu anaknya, bukan orang tuanya, ya kan?"
Iman menghela nafas, sebelum akhirnya menjawab.
"Sudahlah, Fi." ujar Iman pelan, "Aku hanya ingin melihat dia bahagia, tidak lebih. Aku yakin setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Jadi aku anggap ini wajar."
"Jadi, kamu rela Efrina dengan laki-laki lain?"
"Ya.." jawab Iman berusaha menahan diri. "Ini pelajaran, Fi. Cukup aku saja yang pernah jadi korban, bukan kamu atau orang lain. Anggap aku cermin untuk kalian berkaca. Karena, aku sudah tahu bagaimana sakitnya menderita akibat sebuah penolakan dan larangan. Biarkan mereka bahagia, aku cukup melihat dan tersenyum."
Setelah berkata itu, butiran-butiran air mata terlihat menetes di pipi Iman. Dia seperti sudah tidak kuat lagi menahan diri. Kenyataan pahit untuknya. Kebahagiaanya direbut oleh mereka-mereka yang tidak ingin melihatnya bahagia.


 "Man..." teriak Luffi saat Iman beranjak pergi. Tapi, Iman terus saja melangkah, sambil melambaikan tangan membelakangi Luffi. Bait-bait lagu Yovie & Nuno terdengar dari salah satu warung bakso di kantin sekolah, mengiringi langkah Iman.

'Mengapa kita bertemu, bila akhirnya dipisahkan... Mengapa kita berjumpa, bila akhirnya di jauhkan... Aku hancur... Ku terluka... Namun engkaulah nafasku... Kau cintaku... Meski aku... Bukan dibenakmu lagi... Dan kuberuntung sempat memilikimu...'



Salam,
Iman Pitoy,

Ciledug,
16-03-2011,
10:29 WIB
Baca Selengkapnya...

Senin, 14 Maret 2011

Harapan dan Keinginan..

Harapku,
Cinta tulusmu akan bersemi dihatiku
Harapku,
Kasihmu hanya untukku, selamanya...
Tapi,
Semua tak seperti harapku
Cintamu hanya melihat tubuhku
Cintamu hanya ingini liang hangatku...



Aku adalah gambaran kegagalan
Aku adalah cerminan dari sebuah penderitaan
Tapi aku bukan pelacur yang menawar-nawarkan dosa
Aku hanyalah seorang wanita yang hanya ingin membagi kasih tanpa embel-embel nafsu liar kemaluanmu...



Salam,
Iman Pitoy,


Ciledug,
14-03-2011,
14:45 WIB.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 09 Maret 2011

Bayangan Bodoh...

Bayanganku yang bodoh, kenapa kau hanya diam?
apa kau lupa kita pernah kelaparan?
kita pernah kehujanan saat tak menemukan rumah untuk berteduh?
dan kita pernah menangis saat mereka mengucilkan...


bayangan bodoh, dengar!
kau adalah sebagian dari diriku
kuatlah dan jangan hanya diam
penolakan untuk sebuah kebersamaan bukanlah awal lahirnya kesepian
jangan pernah izinkan air mata keluar mengalahkan kehebatan kita
karena, sudah cukup kita merasakan sakit hati...



Salam,
Iman Pitoy,


Ciledug,
10-03-2011,
13:42 WIB.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 22 Februari 2011

Warna..

Suatu ketika ada dua orang anak yang selalu berkelahi. Mereka selalu berselisih paham.
Dalam banyak hal, mereka tak pernah akur. Saat yang satu berpendapat A, maka yang lainnya pasti punya pendapat yang berbeda.
Mereka lakukan hal ini dimana saja. Di sekolah, di rumah, ataupun di tempat bermain. Tentu saja, hal ini sangat merepotkan guru mereka. Karena, setiap orang pasti akan sangat terganggu setiap kali mereka berkelahi.




Maka, pada suatu pagi, Ibu guru memanggil kedua anak itu. Ia lalu meminta mereka masuk ke 2 ruangan yang berbeda. Ruangan itu hanya dipisahkan sebuah tembok, namun, Ibu guru masih dapat melihat apa yang dilakukan mereka berdua dari kejauhan.

Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah meja dengan selembar kertas yang terhampar di depannya. Ibu guru lalu meminta mereka berdua untuk menyebutkan, apa warna kertas yang ada di hadapan mereka. Ah, lagi-lagi
mereka berselisih paham. Anak yang pertama bilang: "Kertas ini putih!"
Namun, anak yang kedua malah berkata: "Bukan putih, kertas ini berwarna hitam."
Putih! Hitam! Putih!!! Hitam!!!, terdengar suara yang saling bersahutan.

Suasana makin riuh, kedua anak itu makin sengit. "Hei, dasar buta warna, apa kamu tidak bisa melihat? Kertas ini putih, tahu!"
Anak kedua tak mau kalah.
"Buta warna? Hei, apa kamu tidak bisa membedakan antara hitam dan putih? Jelas-jelas ini kertas hitam."





Mendengar itu semua, Ibu guru lalu berkata. "Tenang, anak-anak. Sekarang, coba, kalian kemari."
kedua anak itu menghampirinya.
"Nah, sekarang, coba kalian berpindah tempat, dan katakan, apa warna kertas yang ada di atas meja itu."
Kedua anak itu menurut. Mereka lalu berpindah ruangan.
Anak yang pertama berkata."hmm.hii.hii..hitam, Bu."
Anak yang kedua berkata,
"putih, Bu."






Keduanya benar. Ternyata, ibu guru menyiapkan dua kertas yang berbeda buat mereka. Ia, agaknya ingin memberikan hikmah, bahwa, saat mereka berselisih paham, bisa jadi sesungguhnya kedua anak itu benar. Tak ada yang salah dengan pendapat mereka, hanya mereka mungkin melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda saja.

Teman, begitulah kita. Kita, seringkali adalah seperti dua anak kecil yang sering berselisih paham itu. Kita kerap berseteru, bermusuhan, dan tak pernah akur, dalam banyak hal, dalam banyak situasi. Sayangnya, kita kerap pula tak mau mengalah, tak mau memahami, tak mau mengerti, dan tak mau mendengarkan "suara" orang lain. Kita sering berpatokan pada diri sendiri, dan menganggap semua pendapat kita adalah benar adanya.

Memang, tak pernah ada kata keliru untuk berbeda pendapat. Tak ada yang salah dengan keragaman. Namun, agaknya kita harus lebih sering untuk bersatu dalam beberapa saat. Kita, agaknya harus lebih sering untuk mau mengerti, mau memahami, dan mau mendengarkan orang lain. Kita harus lebih sering untuk mau "mengintip" ruangan lain, sebelum kita mulai "menyebutkan warna".

Kadang, kita terlalu tinggi hati untuk mengakui kebenaran orang lain. Kita enggan untuk menyetujui pendapat mereka, bukan karena pendapat mereka salah, tetapi karena kita tak mau merasa dikalahkan. Kita sering terpesona dengan rasa picik, dan tak suka jika ada orang yang lebih baik. Kita memilih untuk tetap berpatokan pada diri sendiri, dan membenarkan semua langkah yang kita perbuat.

Saya yakin, akan ada selalu kebenaran jika kita memandang dengan cara yang berbeda, persepsi yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda. Sebab, menurut saya, tak ada kebenaran yang hakiki, kecuali milik Ilahi Rabbi.

Teman, cobalah untuk memahami persepsi setiap orang, sebelum kita berselisiih paham.




Salam,
Iman Pitoy.


Ciledug,
22-02-2011,
23:30 WIB,

~Tulisan ini diambil dari buku "Kekuatan cinta" karya: Irfan Toni Herlambang.
Baca Selengkapnya...

Kamis, 17 Februari 2011

Hatimu adalah wadah itu (Sebuah renungan...)

Ada seorang tua yang bijak. Suatu pagi ia kedatangan anak muda.

Anak muda itu menumpahkan semua masalahnya. Pak tua yang bijak mendengarkan dengan seksama.. Setelah tamunya tuntas bercerita, tiba tiba orang tua itu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya utnuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas. Diaduknya perlahan.
Minum dan katakan bagaimana rasanya!” kata pak tua itu singkat.
”Puih...!” Sang tamu meludah ke samping. ”Asin sekali. Tenggorokanku seperti tercekik,’ kata si pemuda itu lagi. Pak tua itu tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ketepian telaga di dalam hutan tak jauh dari tempat tinggalnya. Pak tua itu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu diaduknya telaga itu.
”Ambil air dari telaga ini dan minumlah!” Setelah si pemuda selesai meneguk air itu pak tua bertanya, ”Bagaimana rasanya?” Segar , jawab pemuda itu. ”Apakah kamu merasakam garam di dalam air itu?” ”Tidak”.

Pak tua itu tersenyum bijak. Ia menepuk punggung si pemuda dengan lembut. Dibimbingnya anak muda itu duduk bersimpuh di sisi telaga.

”Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam. Tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya sama, dan memang akan tetap sama,” tutur pak tua.
”Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, Kepahitan itu akan terasa tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu menatap si pemuda lembut. ”Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.” Setelah itu keduanya beranjak pulang.

Hari ini mereka sama-sama belajar.
Pak tua bijak itu kembali menyimpan, ”Segenggam garam” untuk anak muda lain yang mungkin datang membawa keresahan jiwa.



Ciledug,
17-02-2011,
21:53WIB

~Tulisan ini diambil dari buku "Kekuatan Cinta" karya Irfan Toni
Baca Selengkapnya...
Advertisement