SELAMAT DATANG DI BLOG YANG MENJADI WADAH ATAU TEMPAT AKU MENUANGKAN PEMIKIRAN DAN TERIAKAN ISI HATI...

Selasa, 02 Agustus 2011

Rahasia Terindah (Kekasih gelapku..)



Rasa cinta ini biarlah menjadi rahasia terindah di hidupku
Aku takkan memberitahu mereka, sebab mereka memang tak perlu tahu
Akan ku kunci lisan ini untuk tak berucap apapun
Tapi kau tak perlu ragu, karena cinta ini takkan pernah berkurang untukmu
Maka yakinlah aku tetap untukmu, karena kau rahasia terindah wahai kekasih gelapku...



Salam,
Iman pitoy

Ciledug,
02-08-2011,
20:40 WIB
Baca Selengkapnya...

Jumat, 08 Juli 2011

Jumat, 24 Juni 2011

Cerita Rakyat Jakarta "Si Jampang Jago Betawi"

Sepasang suami istri itu bahagia sekali setelah melihat bayi mereka lahir dengan selamat. ”Hem, ini dia anak lelaki pertama gue. Lihat dia nampak sehat dan gagah!”

“Iya Bang ! Anak kita ini nampak gagah sekali ya?”

“Siapa dulu dong Bapaknya? Orang Banten memang gagah-gagah!” sambung si suami.


“Abang selalu mengandalkan asal Abang saja. Tanpa ada aku ibunya yang dari Jampang ini, dia tidak akan pernah ada!”

“Iya deh! Lalu kita beri nama apa dia?” tanya si suami.

Atas persetujuan mereka, setelah berdebat ramai, bayi yang berumur seminggu itu diberi nama si Jampang. Anak itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang benar-benar gagah, ganteng, sebagai pemuda keturunan Banten, ia juga diajari ilmu pencak silat yang sangat terkenal itu ia juga pandai memainkan golok. Jika ia hadir di pesta-pesta keramaian selalu menarik perhatian gadis-gadis remaja.

Setelah usianya cukup dewasa dia dinikahkan dengan seorang gadis cantik dari dari Kebayoran Lama. Setelah menikah, si Jampang tidak mau hidup serumah dengan kedua orang tuanya. Ia juga tak mau tinggal di rumah mertuanya. Ia lebih suka hidup mandiri. Suka duka akan dijalaninya bersama dengan istri tercinta.

Demikianlah, setelah mengumpulkan perbekalan yang cukup ia membeli tanah dan membangun rumah sendiri yang sederhana. Ia dan keluarganya pindah ke Grogol, Depok.

Ia hidup baik-baik dan bahagia dengan istrinya itu. Namun sayang, setelah dikaruniai anak laki-laki, belum lagi anak itu beranjak remaja, sang istri sudah meninggal. Sejak itu, Jampang hanya hidup dengan anak laki satu-satunya. Anak ini dikenal dengan nama Jampang muda. Dia tumbuh pula menjadi seorang anak muda yang tampan seperti ayahnya.

Si Jampang ingin anaknya menjadi orang soleh yang berguna bagi masyarakat. Maka ia titipkan anak itu di pondok pesantren. Kadang-kadang saja anak itu pulang menemui ayahnya karena ia lebih seneng tinggal di pesantren dengan kawan-kawannya.

Sejak ditinggal mati istrinya si Jampang merasa kesepian. Ia makin sedih melihat kenyataan bahwa kehidupan rakyat Betawi banyak yang menderita. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang kaya dan senang. Maka seperti si Pitung, Jampang kemudian merampok harta orang-orang kaya yang kikir lalu diberikan kepada penduduk yang menderita.

Pada suatu hari anaknya pulang ke rumah.”Ayah, saya tak mau lagi mondok di Pesantren. Saya malu sekali, Yah!” kata anaknya

“Malu? Malu kenapa Tong?” tanya si Jampang penasaran. Tong adalah panggilan sang ayah kepada anaknya.

“Ayah kan orang Banten. Biasanya orang-orang Banten itu alim dan hidup baik-baik. Tapi ayah kok sering merampok? Di Pesantren sudah dibicarakan orang terus. Saya jadi malu sekali, Yah.”

“Kamu tidak perlu memberi nasihat kepada Ayah. Kamu masih anak kemarin, Tong. Sebenarnya kamu pulang punya maksud apa?” tanya ayahnya.

“Saya tidak mau mengaji lagi, Yah.” sahut anaknya.

“Payah, kamu Tong. Tadi memberi nasihat seperti kyai, sekarang tidak mau mengaji lagi. Kamu mau jadi apa? Mau jadi tukang pukul seperti ayahmu ini?”

si Jampang muda menggelengkan kepala, ”Lho jadi apa maumu Tong? Kamu tidak mau mondok? Kalau begitu, lebih baik nikah saja.”

Ciput mengangguk-angguk.

“Ibu seperti kena guna-guna,” kata Abdih, ”Pelakunya tentu Mang Jampang. Sungguh bikin malu. Saya malu sekali. Dukun mana yang bisa menyembuhkan Ibu, Ciput?”

Ciput belum pernah tahu soal guna-guna. Jadi, dia tidak bisa menjawab. Abdih bertanya kesana kemari. Akhirnya dapat berita. Pak Dul di kampung Gabus. Karena dukun itu sendiri yang membuat, dengan tidak menemui kesukaran dia pula yang mencabut guna-gunanya. Mayangsari seketika sembuh. Tidak ingat lagi kepada si Jampang.

Sesudah itu Abdih mencari Jampang. Ia marah tapi ketika bertemu Jampang ia malah tak bisa bersikap keras. Terpaksa ia bicara baik-baik.

“Bisa atau tidak bisa, saya harus menikah dengan Ibumu, Abdih,” kata Jampang menegaskan.

“Saya tidak melarang, Mang Jampang,” jawab Abdih yang ketakutan juga, ”Tetapi ada syaratnya, Mang Jampang harus menyerahkan sepasang kerbau sebagai emas kawinnya.”

“Saya tidak keberatan, Abdih. Saya akan usahakan!”

Abdih pulang menyampaikan kesanggupan Jampang kepada ibunya.

Dari mana dapat kerbau sepasang ? Harga kerbau sepasang sangat mahal. Jampang tidak punya uang. Namun, dia segera ingat Haji Saud di Tambun. Dia kaya sekali. Sawahnya luas, kerbau dua ekor bukan apa-apa. Ke tempat itulah Jampang dan Sarpin pergi merampok dengan mudah. Ketika dia dengan Sarpin akan keluar dari pintu desa, sekawanan polisi sudah mengepung. Mereka menunjukkan laras-laras senapan kearah Jampang dan Sarpin. Tertangkaplah Jampang. Jampang pun tidak bisa melakukan perlawanan.

Orang-orang kaya, tuan-tuan tanah, serta pejabat pemerintah Belanda merasa gembira melihat Jampang telah dipenjara dan akhirnya dihukum mati. Sebaliknya, rakyat kecil, para petani dan mereka yang menderita amat sedih. Walaupun Jampang sering merampok, dia tidak pernah menikmati sendiri hasil rampokannya. Bagi rakyat kecil Jampang adalah sosok pahlawan mereka sering mendapat pembagian hasil rampokan dari orang-orang kaya dan tuan-tuan tanah yang tamak dan kikir.

Jampang menemui nasib naas ketika merampok sepasang kerbau yang hendak digunakan sebagai Mas Kawin bagi Mayangsari, yang berarti untuk kepentingannya sendiri. Memang cara yang tidak benar, tidak halal, tidak boleh ditiru oleh siapapun agar tidak bernasib sial.


Sumber : http://www.bali-directory.com/education/folks-tale/SiJampangJagoBetawi.asp
Baca Selengkapnya...

Rabu, 15 Juni 2011

Karena Kau (Sebuah harapan..)

Aku terhimpit kesendirian tak berkesudahan
Terpaku gersangnya pelangi setelah hujan sore ini
Semuanya penuh keheningan...
Semuanya penuh kehampaan...
Angin...
Lihat dan dengarlah aku ingin mengadu...


Hanya sebatang rokok dan segelas alkohol yang slalu setia menjadi teman berbagi
Kemanakah sang bidadariku pergi.. ?
Aku hanya bisa diam dalam jiwa yang merintih
Berharap semua ini akan cepat berakhir...


Kubentangkan sejuta asa demi rengkuh bahagia
Disini aku slalu mengingat satu janjimu
Janji kau akan kembali untukku
Kembali menjadi bidadari pembawa damai hatiku
Menyirami kalbuku yang haus sentuhan kasihmu


Kapankah kau kembali ?
Batinku resah menunggumu disini
Lekaslah...
Lekas akhiri kesendirianku...
Karena kau adalah satu-satunya harapanku...


Salam,
Iman Pitoy,

Ciledug,
15-06-2011,
11:10 WIB.
Baca Selengkapnya...

Senin, 23 Mei 2011

Kecantikan yang menghilang



Wanita yang dulu cantik itu kini ringkuh dan layu.
Dia menunduk di hadapan cermin, lalu menuduh sang waktu yang begitu kejam merampas segala keindahan dari dirinya.
Wanita itu menangis melihat wajahnya kini, wajah yang mulai keriput.
Dan dia pun tahu cermin tak mungkin berbohong.



Kini dia sadar akan apa yang selama ini dibanggakannya:
Kecantikan pada akhirnya akan menghilang seiring menuanya umur kita...


Salam,
Iman Pitoy

Ciledug,
23-05-2011,
14:58 WIB.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 29 April 2011

Bila waktu itu tiba (Kenyataan perasaan..)

Percaya saja saat aku mengatakan apapun kepadamu nanti
Tak perlu ada pertanyaan "Mengapa..?"
Karena cinta datang dengan sendirinya...


Kasih sayang dan cinta buatku tak harus diucapkan
Karena aku bukanlah seorang lelaki pengumbar kata-kata cinta penuh kepalsuan
Dan bila waktu itu tiba aku pasti akan mengatakannya padamu
Maka,
Percaya saja apa yang akan aku katakan nanti
Karena itu kenyataan perasaanku selama ini dari hati yang terdalam



Salam,
Iman pitoy

Ciledug,
29-04-2011,
19:14 WIB.
Baca Selengkapnya...

Kamis, 31 Maret 2011

Istri yang pemaaf...

Ada sebuah cerita, cerita tentang sepasang suami istri yang sedang melakukan perjalanan.
Ditengah perjalanan, mereka bertengkar hebat. Sang suami yang sudah dikuasai emosinya oleh syaitan, memaki bahkan menampar sang istri. Tapi, sang intri hanya diam tidak membalas, dia hanya tersenyum sambil menuliskan isi hatinya diatas sebuah pasir.
"Suamiku melukai hatiku..."
Setelah itu, mereka meneruskan perjalanan hingga tiba di sebuah sungai. Sang istri meminta ijin untuk mandi. Saat mencoba mulai berenang, dia hampir tenggelam, sampai akhirnya sang suami berhasil menyelamatkannya. Setelah siuman, dia kembali tersenyum dan menuliskan isi hatinya. Tapi kali ini berbeda, dia menuliskannya bukan diatas pasir, melainkan batu.
"Sekarang, suamiku tercinta menyelamatkan nyawaku..."


Sang suami terlihat heran, lalu menanyainya:
Suami bertanya: "Kenapa saat aku melukaimu, kamu menuliskan itu diatas pasir? dan saat ini, saat aku menyelamatkanmu, kamu menulisnya diatas batu?"
Istri menjawab: "Kenapa aku menuliskan diatas pasir saat aku dilukai, karena agar angin maaf dapat menghapus tulisan diatas pasir itu. Dan saat kamu berbuat hal yang membuatku bahagia, aku akan menuliskannya di batu, agar angin tidak dapat menghapusnya..."



Dalam hidup ini, pasti sering terjadi kesalah pahaman/beda pendapat, yang terkadang bisa membuat kita bertengkar karena sangat menyakiti hati. Oleh karena itu belajar lah untuk bisa saling memaafkan dan melupakan masalah yang lalu.
Cerita diatas memberikan pelajaran buat kita. Pelajaran untuk bisa memaafkan, sekalipun itu sangat menyakitkan, dan pelajaran untuk selalu mengingat kebaikan-kebaikan yang telah kita terima dari orang lain.
Semoga teman-teman semua dapat belajar dari tulisan saya ini.



Salam,
Iman Pitoy,

Ciledug,
 31-03-2011,
15:37 WIB.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 16 Maret 2011

Cinta Yang Ditentang..

Pagi ini, Iman datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Yang ada di sekolah baru beberapa siswa, itupun anak kelas 10. Dia duduk di pojok kantin, tempat favorit dia diwaktu istirahat jam pelajaran. Tiba-tiba terdengar satu suara memanggilnya dari belakang, "Iman! Ngapain kamu disitu sendirian?" refleks Iman menoleh kebelakang, ternyata si Luffi teman sekelasnya. "Eh kamu toh, Fi. Tumben kamu sudah ada di sekolah?"
"Kamu sendiri juga tumben, biasanya juga telat melulu!" jawab Luffi setelah duduk tepat di depan Iman.
"Ga tau nih, Fi. Hari ini kayanya beda banget, lagi ga pengen telat dateng,"
"Beda apanya nih? Suasana hati kamu kali yang lagi beda?" Luffi meledek.
"Maksudnya?" ujar Iman tak mengerti.
"Aku tahu kok. Kamu baru putus kan sama efrina? Dan penyebabnya, karena orang tuanya tidak setuju kan?"
Iman tidak menjawab pertanyaan Luffi yang seakan tahu isi hatinya.
"Ternyata benar!" ujar luffi lagi, "Heran deh aku, hari gini masih saja ada orang tua yang ikut campur urusan anaknya,"
Sekali lagi Iman tidak menjawab, dia hanya diam sejuta kata.
"Apa kamu tidak kecewa, Man?" tanya Luffi menyelidik.
"Bohong kalau aku tidak kecewa, Fi" jawab Iman akhirnya. "Tapi untuk apa? Toh, itu untuk kebahagiaannya juga. Dan aku menghargai keputusannya, asalkan dia bahagia, aku ikhlas.." Iman beralasan.
"Salah, bukan seperti itu yang harusnya kamu lakukan," hentak Luffi. "Jika pertimbangannya bahagia, mestinya mereka membiarkan anaknya berhubungan dengan siapapun, bukan malah membatasi. Tugas mereka hanya mengawasi, mengontrol, yang menentukan si anaknya sendiri. Kan yang menjalani hubungan itu anaknya, bukan orang tuanya, ya kan?"
Iman menghela nafas, sebelum akhirnya menjawab.
"Sudahlah, Fi." ujar Iman pelan, "Aku hanya ingin melihat dia bahagia, tidak lebih. Aku yakin setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Jadi aku anggap ini wajar."
"Jadi, kamu rela Efrina dengan laki-laki lain?"
"Ya.." jawab Iman berusaha menahan diri. "Ini pelajaran, Fi. Cukup aku saja yang pernah jadi korban, bukan kamu atau orang lain. Anggap aku cermin untuk kalian berkaca. Karena, aku sudah tahu bagaimana sakitnya menderita akibat sebuah penolakan dan larangan. Biarkan mereka bahagia, aku cukup melihat dan tersenyum."
Setelah berkata itu, butiran-butiran air mata terlihat menetes di pipi Iman. Dia seperti sudah tidak kuat lagi menahan diri. Kenyataan pahit untuknya. Kebahagiaanya direbut oleh mereka-mereka yang tidak ingin melihatnya bahagia.


 "Man..." teriak Luffi saat Iman beranjak pergi. Tapi, Iman terus saja melangkah, sambil melambaikan tangan membelakangi Luffi. Bait-bait lagu Yovie & Nuno terdengar dari salah satu warung bakso di kantin sekolah, mengiringi langkah Iman.

'Mengapa kita bertemu, bila akhirnya dipisahkan... Mengapa kita berjumpa, bila akhirnya di jauhkan... Aku hancur... Ku terluka... Namun engkaulah nafasku... Kau cintaku... Meski aku... Bukan dibenakmu lagi... Dan kuberuntung sempat memilikimu...'



Salam,
Iman Pitoy,

Ciledug,
16-03-2011,
10:29 WIB
Baca Selengkapnya...

Senin, 14 Maret 2011

Harapan dan Keinginan..

Harapku,
Cinta tulusmu akan bersemi dihatiku
Harapku,
Kasihmu hanya untukku, selamanya...
Tapi,
Semua tak seperti harapku
Cintamu hanya melihat tubuhku
Cintamu hanya ingini liang hangatku...



Aku adalah gambaran kegagalan
Aku adalah cerminan dari sebuah penderitaan
Tapi aku bukan pelacur yang menawar-nawarkan dosa
Aku hanyalah seorang wanita yang hanya ingin membagi kasih tanpa embel-embel nafsu liar kemaluanmu...



Salam,
Iman Pitoy,


Ciledug,
14-03-2011,
14:45 WIB.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 09 Maret 2011

Bayangan Bodoh...

Bayanganku yang bodoh, kenapa kau hanya diam?
apa kau lupa kita pernah kelaparan?
kita pernah kehujanan saat tak menemukan rumah untuk berteduh?
dan kita pernah menangis saat mereka mengucilkan...


bayangan bodoh, dengar!
kau adalah sebagian dari diriku
kuatlah dan jangan hanya diam
penolakan untuk sebuah kebersamaan bukanlah awal lahirnya kesepian
jangan pernah izinkan air mata keluar mengalahkan kehebatan kita
karena, sudah cukup kita merasakan sakit hati...



Salam,
Iman Pitoy,


Ciledug,
10-03-2011,
13:42 WIB.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 22 Februari 2011

Warna..

Suatu ketika ada dua orang anak yang selalu berkelahi. Mereka selalu berselisih paham.
Dalam banyak hal, mereka tak pernah akur. Saat yang satu berpendapat A, maka yang lainnya pasti punya pendapat yang berbeda.
Mereka lakukan hal ini dimana saja. Di sekolah, di rumah, ataupun di tempat bermain. Tentu saja, hal ini sangat merepotkan guru mereka. Karena, setiap orang pasti akan sangat terganggu setiap kali mereka berkelahi.




Maka, pada suatu pagi, Ibu guru memanggil kedua anak itu. Ia lalu meminta mereka masuk ke 2 ruangan yang berbeda. Ruangan itu hanya dipisahkan sebuah tembok, namun, Ibu guru masih dapat melihat apa yang dilakukan mereka berdua dari kejauhan.

Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah meja dengan selembar kertas yang terhampar di depannya. Ibu guru lalu meminta mereka berdua untuk menyebutkan, apa warna kertas yang ada di hadapan mereka. Ah, lagi-lagi
mereka berselisih paham. Anak yang pertama bilang: "Kertas ini putih!"
Namun, anak yang kedua malah berkata: "Bukan putih, kertas ini berwarna hitam."
Putih! Hitam! Putih!!! Hitam!!!, terdengar suara yang saling bersahutan.

Suasana makin riuh, kedua anak itu makin sengit. "Hei, dasar buta warna, apa kamu tidak bisa melihat? Kertas ini putih, tahu!"
Anak kedua tak mau kalah.
"Buta warna? Hei, apa kamu tidak bisa membedakan antara hitam dan putih? Jelas-jelas ini kertas hitam."





Mendengar itu semua, Ibu guru lalu berkata. "Tenang, anak-anak. Sekarang, coba, kalian kemari."
kedua anak itu menghampirinya.
"Nah, sekarang, coba kalian berpindah tempat, dan katakan, apa warna kertas yang ada di atas meja itu."
Kedua anak itu menurut. Mereka lalu berpindah ruangan.
Anak yang pertama berkata."hmm.hii.hii..hitam, Bu."
Anak yang kedua berkata,
"putih, Bu."






Keduanya benar. Ternyata, ibu guru menyiapkan dua kertas yang berbeda buat mereka. Ia, agaknya ingin memberikan hikmah, bahwa, saat mereka berselisih paham, bisa jadi sesungguhnya kedua anak itu benar. Tak ada yang salah dengan pendapat mereka, hanya mereka mungkin melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda saja.

Teman, begitulah kita. Kita, seringkali adalah seperti dua anak kecil yang sering berselisih paham itu. Kita kerap berseteru, bermusuhan, dan tak pernah akur, dalam banyak hal, dalam banyak situasi. Sayangnya, kita kerap pula tak mau mengalah, tak mau memahami, tak mau mengerti, dan tak mau mendengarkan "suara" orang lain. Kita sering berpatokan pada diri sendiri, dan menganggap semua pendapat kita adalah benar adanya.

Memang, tak pernah ada kata keliru untuk berbeda pendapat. Tak ada yang salah dengan keragaman. Namun, agaknya kita harus lebih sering untuk bersatu dalam beberapa saat. Kita, agaknya harus lebih sering untuk mau mengerti, mau memahami, dan mau mendengarkan orang lain. Kita harus lebih sering untuk mau "mengintip" ruangan lain, sebelum kita mulai "menyebutkan warna".

Kadang, kita terlalu tinggi hati untuk mengakui kebenaran orang lain. Kita enggan untuk menyetujui pendapat mereka, bukan karena pendapat mereka salah, tetapi karena kita tak mau merasa dikalahkan. Kita sering terpesona dengan rasa picik, dan tak suka jika ada orang yang lebih baik. Kita memilih untuk tetap berpatokan pada diri sendiri, dan membenarkan semua langkah yang kita perbuat.

Saya yakin, akan ada selalu kebenaran jika kita memandang dengan cara yang berbeda, persepsi yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda. Sebab, menurut saya, tak ada kebenaran yang hakiki, kecuali milik Ilahi Rabbi.

Teman, cobalah untuk memahami persepsi setiap orang, sebelum kita berselisiih paham.




Salam,
Iman Pitoy.


Ciledug,
22-02-2011,
23:30 WIB,

~Tulisan ini diambil dari buku "Kekuatan cinta" karya: Irfan Toni Herlambang.
Baca Selengkapnya...

Kamis, 17 Februari 2011

Hatimu adalah wadah itu (Sebuah renungan...)

Ada seorang tua yang bijak. Suatu pagi ia kedatangan anak muda.

Anak muda itu menumpahkan semua masalahnya. Pak tua yang bijak mendengarkan dengan seksama.. Setelah tamunya tuntas bercerita, tiba tiba orang tua itu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya utnuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas. Diaduknya perlahan.
Minum dan katakan bagaimana rasanya!” kata pak tua itu singkat.
”Puih...!” Sang tamu meludah ke samping. ”Asin sekali. Tenggorokanku seperti tercekik,’ kata si pemuda itu lagi. Pak tua itu tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ketepian telaga di dalam hutan tak jauh dari tempat tinggalnya. Pak tua itu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu diaduknya telaga itu.
”Ambil air dari telaga ini dan minumlah!” Setelah si pemuda selesai meneguk air itu pak tua bertanya, ”Bagaimana rasanya?” Segar , jawab pemuda itu. ”Apakah kamu merasakam garam di dalam air itu?” ”Tidak”.

Pak tua itu tersenyum bijak. Ia menepuk punggung si pemuda dengan lembut. Dibimbingnya anak muda itu duduk bersimpuh di sisi telaga.

”Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam. Tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya sama, dan memang akan tetap sama,” tutur pak tua.
”Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, Kepahitan itu akan terasa tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu menatap si pemuda lembut. ”Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.” Setelah itu keduanya beranjak pulang.

Hari ini mereka sama-sama belajar.
Pak tua bijak itu kembali menyimpan, ”Segenggam garam” untuk anak muda lain yang mungkin datang membawa keresahan jiwa.



Ciledug,
17-02-2011,
21:53WIB

~Tulisan ini diambil dari buku "Kekuatan Cinta" karya Irfan Toni
Baca Selengkapnya...

Kamis, 03 Februari 2011

Ini kami (Pencari sebuah arti kata sayang...)

Ini kami kaum yang kalian hujani jutaan caci
Makhluk rendah versi kalian si tuan jalang
Mencoba menebalkan telinga saat kalian teriaki kami "si lesbi sampah"


Ahh, penat rasanya jiwa ini
Yang kami ingin adalah mengerti sebuah arti kata sayang
Bukan mendengar umpatan dan mengerti sakitnya dikucilkan...


Dalam penat jiwa kami memohon;
"Jangan hanya melihat kobodohan kami yang mencintai sesama, coba lihat dan jamah juga hati kami, sebab hati dan jiwa kami hanya ingin mengerti sebuah arti kata sayang yang tak kami dapat dari sosok bernama pria..."




Salam karya,
Iman Pitoy,


Ciledug,
03-02-2011,
22:35 WIB
Baca Selengkapnya...

Selasa, 01 Februari 2011

Kesendirian...

Cinta...
aku tersesat dalam mencarimu
tersesat di kota tak berpenghuni yang kunamakan hati
dan kota ini tak dapat menjawab dimana dirimu










Aku bagai seorang bayi
yang tiada henti merengek meminta sebotol susu
tapi tak kau perdulikan dan terus berlari menjauh



Aku sepi, aku sendiri
tapi aku coba untuk menerimanya
karena buatku kesendirian berarti keikhlasan hati
kerelaan atas suatu pengorbanan...




Salam,
Iman Pitoy,

Ciledug,
02-02-2011,
07:28 WIB
Baca Selengkapnya...

Minggu, 23 Januari 2011

Kehendakmu tidak mengenal akhir...

Putri menarik nafas panjang, Matanya terus menatap mata Idan yang dari sejak tadi hanya menunduk.
"Dan," ujar Putri dengan suara yang sangat halus.
 Idan mengangkat wajahnya, "Ada apa Put?" jawab Idan pelan
"Sepertinya aku harus mengakhiri hubungan kita ini..," ujar Putri dengan suara yang berat. "Aku tahu ini berat, bahkan mungkin sangat berat. Tapi penyakit leukimia ini yang membuat aku harus mengambil keputusan ini..." ujar Putri lagi.
"Apa kamu bilang Put?" ujar Idan kaget tidak percaya dengan ucapan Putri barusan.
"Umurku sudah tidak panjang lagi!" ujar Putri menegaskan pada Idan.
"Tidak Put, tidak mungkin, pasti kamu bohong sama aku," Idan masih tidak percaya dengan yang ia dengar.
"Maafin aku Dan, selamat tinggal..." ujar Putri sambil melangkah pergi.
"Tunggu Put!" Idan menghentikan langkah Putri.
"Put," ujar Idan lagi, "Penyakitmu bukan alasan untuk mengakhiri hubungan kita. Dokter itu bukan Tuhan yang berhak memvonis umurmu tidak akan panjang, Tuhan punya rahasianya sendiri untuk kita yang tidak kita ketahui."
Putri menelan ludahnya, ia menatap Idan heran.
"Apa kamu berfikir akan ada keajaiban yang bisa menyembuhkan aku?" ujar Putri pelan.
"Ya," Jawab Idan singkat, "Tapi, seandainya ini bukan waktu dan bagian kita untuk bisa bersanding di kehidupan ini. Aku yakin tuhan akan mempertemukan kita di kehidupan yang lain..." ujar Idan lagi sambil memeluk Putri.
"Ya, kamu benar Dan.." Ujar putri sambil menitikan air mata di pelukan Idan.


Kekasih...
Kau menghiburku ketika aku susah, mengingatkanku ketika senang
Hadirmu seperti oasis yang setetes airnya mampu menyejukkan jutaan debu
Terima kasih Tuhan telah menciptakan dia untukku
Dan kini aku tahu bahwa kehendakmu tidak mengenal akhir dalam diriku...



Salam karya,
Iman Pitoy

Ciledug,
23-01-2011,
21:07 WIB
Baca Selengkapnya...

Rabu, 19 Januari 2011

Pada Suatu Malam ( Syahwat menyeruak)


Mata terpejam oleh anggur di malam pekat
Syahwat menyeruak diantara bising kendaraan
Tubuh gadis belasan tahun selalu merangsang
Hingga alunan lagu birahi telah sampai pada nada tinggi





Selamat malam sayang,
Mari kita telanjang
Kita lakukan persetubuhan
Kita habiskan waktu malam menggeliat jalang
Hingga puas bertaut nikmat...





Salam,
Iman Pitoy

Ciledug,
19-01-2011
22:50 WIB
Baca Selengkapnya...

Senin, 03 Januari 2011

Aku Memiliki Arti ( Jangan menyerah...)

Aku tenggelam dalam hangat pelukan singa malam ini
Singa yang membuatku tersesat di kegelapan hati
Semakin jauh aku berjalan namun semakin tersesat dalam langkah
Berharap akan menemukan cahaya keindahan cinta dalam perjalananku




"Tuhan, aku lelah akan cintaku....."





Tapi aku takkan menyalahkan siapa-siapa
Tidak kau, tidak juga seluruh isi dunia
Meski tak pernah dipandang, "BUKAN BERARTI AKU TAK MEMILIKI ARTI"
Dan di sekeping sisa hati ini
Aku masih terus berharap
Semua akan berakhir indah...




nb:
Ingatlah teman, jangan pernah kalian berkecil hati atau bersedih karna di khianati.
percayalah kita punya arti, dan teruslah "memberi tanpa mengharap kembali"
berfikirlah jika cinta meninggalkanmu, itu hanyalah proses untukmu menuju sebuah kata D..E..W..A..S..A



Salam karya,
Iman Pitoy


Ciledug,
04-01-2011,
11: 07 WIB
Baca Selengkapnya...

Kamis, 16 Desember 2010

Penyair adalah...

Penyair adalah paduan kegembiraan, kepedihan, dan ketakjuban, dengan sedikit kamus.
Penyair adalah raja yang tak bertahta, yang duduk di kursi indah istananya dan coba membangun khayalan dari tempat itu.
Penyair adalah burung yang membawa keajaiban.
Dia lari dari kerajaan surga lalu tiba di dunia ini untuk berkicau semerdu-merdunya dengan suara bergetar.
Bila kita tidak memahaminya dengan cinta di hati, dia akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang kembali ke negeri asalnya.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 15 Desember 2010

Aku yang kau sebut "PELACUR"

Aku wanita yang kau sebut "PELACUR".
Dengan vagina yang terluka
Aku berdiri telanjang tanpa sehelai kainpun
Bersiap melayani kemaluanmu yang tak kenal rasa malu

Aku wanita yang kau sebut "PELACUR"
Pemberi nikmat di balik malam
Yang menghalalkan kata haram
Demi sebuah imbalan yang kau janjikan


Tapi,
Di balik kesunyian aku berdoa;
Tuhan...
Tolonglah aku...
Lepaskan jerat nista ini...
Bawa aku kembali menjadi hambamu...




Salam,
Iman Pitoy



Ciledug,
15-12-2010,
21:00 WIB
Baca Selengkapnya...
Advertisement